Selasa, 11 September 2018

Makna Penting di Balik Proses Sosialisasi (in my opinion)

PROSES SOSIALISASI menyimpan makna penting dalam membentuk watak, karakter dan pemikiran seseorang karena proses ini merupakan sarana TRANSFORMASI dan BELAJAR seorang manusia untuk menjadi makhluk sosial. 

Proses sosialisasi ini bermula semenjak seseorang dilahirkan hingga akhir hayatnya.
Dalam hal ini, peran dan didikan keluarga di masa kecil mungkin akan memberikan pengaruh pada sikap dan kepribadian anak-anak.


Image result for sosialisasi
Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, faktor-faktor seperti pendidikan, sekolah, pekerjaan, lingkungan sosial ataupun pengalaman pribadi yang dramatis mungkin dapat mengubah pandangan hidup seseorang secara signifikan. 
Selain itu, adanya figur yang dikagumi dan menjadi panutan juga dapat membawa pengaruh dalam membentuk corak pemikiran dan kepribadian seseorang. 
Hal ini terutama berlangsung saat seseorang sedang dalam masa pembentukan kepribadian dan pencarian jati diri, 
dimana mereka biasanya masih labil dan mudah goyah.


Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memiliki prinsip yang teguh agar tidak mudah goyah dalam menjalani kehidupan ini. 
Selain itu, kita perlu pula belajar menempatkan diri serta bergaul di lingkungan yang baik karena lingkungan sekeliling dapat mempengaruh karakter dan kepribadian kita. 
Implikasinya, karakter dan kepribadian yang baik tersebut mungkin akan dapat mengarahkan kita menuju masa depan yang  lebih baik :)

Kamis, 19 April 2018

Energi Kebaikan

Dalam hidup ini berlaku Hukum Kekekalan Energi. 
Energi itu kekal (tetap), artinya energi tidak dapat dimusnahkan ataupun diciptakan. Energi hanya bisa diubah dari satu bentuk energi ke bentuk yang lain.

Artinya, energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. 

Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain.

Begitu pula ketika energi itu berupa kebaikan. 
Kebaikan  untuk orang lain.
Maka, ibarat hukum Kekekalan Energi, kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita. 
Berbalik kepada kita.
Entah itu dalam bentuk ketulusan, keikhlasan, persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalamm :)

Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. 
Kalau begitu, tunggu apa lagi??
Siapkah kamu menularkan energi kebaikan pada sesama??

Senin, 16 April 2018

Mengurai Kesenjangan Ekonomi di Negeri Kita


Pernah ga sih notice, biasanya ga jauh dari perumahan, apartemen, mall ataupun kawasan elit itu terdapat bangunan-bangunan kumuh, reyot, sangaat sederhana, kurang nyaman, dll
Pokonya suasananya  sangat kontras berbeda dengan yang terdapat di kawasan elit tersebut. Bagaikan langit dan bumi
Tapi itulah faktanya.
Salah satu potret nyata kesenjangan sosial dan ekonomi di negeri kita.
Tingkatan ekonomi yang tidak merata.
Distribusi uang yang kurang tersebar dan tak semua orang memilikinya.

Lalu sebenernya seberapa pentingkah uang itu?
Dan dimanakah uang itu sekarang berada?
Apakah lenyap gitu aja ditelan bumi?
Padahal Perum Peruri nyetak uang rupiah untuk didistribusikan ke seluruh penjuru negeri.
Dan uang secara fisik itu beredar dari tangan ke tangan, tidak habis secara fisik seperti makanan yang dicerna badan...

Uang itu kekal sebagaimana hukum kekekalan energi. 

Uang selalu ada, berputar, dan disalurkan. Tidak lenyap! 

Tapi kemana dan dimanakah selama ini uang-uang tersebut berputar? 

Kepada siapa ia mengendap? 

Kepada siapa ia disalurkan? 

Dan kenapa ketimpangan ekonomi masih terjadi?
Barangkali, ketimpangan ekonomi masih terjadi karena mayoritas pengendali dan pemegang uang sangat bertolak belakang dengan kebaikan.
Para pemegang uang kurang menyalurkannya untuk kebaikan. 
Kegiatan berbagi, bersedekah, infaq, zakat, wakaf maupun dalam bentuk donasi dan sumbangan yang mungkin jumlahnya sangat kecil dbanding konsumsi pribadi.  
Sangat kontras dibandingkan dengan pemenuhan keinginan pribadi, pembelian barang-barang branded dan prestige 
Akibatnya, uang banyak mengalir dan berputar di area elite, perusahaan-perusahaan ternama multinasional, atau bahkan mengalir ke luar negeri (apabila barang tersebut impor). 
TIDAK banyak aliran uang yang tersalurkan ke masyarakat kecil, UMKM-UMKM, maupun perusahaan-perusahaan domestik yang banyak membuka lapangan pekerjaan dan menyerap karyawan.
Mungkin karena produk-produknya tidak sepopuler milik perusahaan besar ternama. 
Mungkin budaya berbagi sudah mulai luntur, perlahan-lahan, sedikit demi sedikir, setahap demi setahap, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta mulai hilang ditelan peradaban.

Lalu apa yang kita harus lakukan sebagai generasi muda?

Kita sebagai generasi muda perlu introspeksi.
Kitanya sendiri gimana?
Terlalu banyak berkomentar. Terlalu sering menyalahkan.
Kurang ambil bagian dalam kebaikan.
Kita berharap orang-orang tersebut akan berbagi kepada sekitar.

But indeed, kenapa ga kita aja yang jadi orang berada tersebut lalu kita bantu sesama, berbagi pada sekitar,
Maka mari secara bertahap menjadi orang berada tersebut.
Tapi motivasinya adalah untuk kebaikan, untuk disalurkan pada kebaikan, ke sesama yang memelukan.

Hal ini bisa diawali dengan menjadi orang yang berilmu.
Berilmu ini luas konteksnya ga hanya sekedar akademik, tapi juga ilmu kehidupan.
Seperti kata Ali bin Abi Thalib R.A,
"Ilmu akan menjaga kita, sedangkan harta sebaliknya, kitalah yang harus menjaganya"

Dan kalo bisa saling menjaga, why not? kenapa nggak kita jadi dua-duanya? Menjadi orang yang berilmu sekaligus berharta?
  • Diawali dengan menjadi orang yang giat menuntut ilmu selagi muda, 
  • Lalu tekun berusaha pada bidang apapun yang kita geluti,
  • Kemudian perlahan menjadi orang berharta. 
  • Dan menggunakannya untuk kebaikan, berzakat, berinfaq, bersedekah, berderma, menolong sesama minimal di lingkungan sekitar kita.
  • Selain itu, dengan membeli barang produksi dalam negeri. Why?? Selengkapnya bisa baca disini yaaw https://ini-salma.blogspot.co.id/2018/04/menjadi-konsumtif-itu-bagus-apabila.html

So, dengan melakukan hal-hal tersebut secara perlahan (giat menuntut ilmu, tekun berusaha dalam bidang apapun yang kita geluti, membeli produk dalam negeri, dan berbagi dengan sesama)--  kita akan mulai memberikan impact nyata ke masyarakat. 

Kita akan turut berperan mengurai kesenjangan sosial  ekonomi, mengurai ketimpangan yang terjadi, dan secara perlahan pula membantu mewujudkan perekonomian Indonesia yang lebih baik . AAMIIN 😊😊😊

Minggu, 15 April 2018

Menjadi Konsumtif itu Bagus, Apabila......


Menjadi konsumtif itu bagus, apabila.....
Apabila apaa?? Hayooo cobaa tebaak wkwk.
Apabila.....

Barang yang dikonsumsi adalah produk dalam negeri.


Yapp benar sekalii!
Dan ini penting banget lhohh! 
Sesuai dengan Teori Paradox of Thrift, yang intinya :

"Semakin besar konsumsi  masyarakat di suatu negara, seharusnya akan semakin menggerakkan perekonomian negara tersebut--- "

Namun itu akan terwujud apabila masyarakatnya gemar mengonsumsi produk dalam negeri, sehingga aliran uang banyak beredar dalam negeri dan akan menggerakkan perekonomian negeri. 

Bayangkan kalau itu terjadi di Indonesia!!  :)
Masyarakat Indonesia yang konsumtif banyak membeli produk dalam negeri, 
sehingga meningkatkan produktivitas perusahaan-perusahaan nasional, 
lalu karena permintaan meningkat maka perusahaan akan menyerap banyak karyawan (which is itu akan menekan angka pengangguran), 
karena permintaan meningkat pula maka profit perusahaan akan meningkat, sehingga pendapatan masyarakat pun juga akan meningkat. 
Pendapatan masyarakat yang meningkat akan berimplikasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat (walaupun uang bukan segalanya, but at least kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi).

Bayangkan seberapa besak multiplier effect nya bagi perekonomian dan kesejateraan masyarakat Indonesia!!
Makanya, yuuk mulai sekarang beli produk dalam negeri yaaa dan kamu akan turut berkontribusi dalam menggerakkan perekonomian bangsa :)


Jumat, 13 April 2018

Langit Senja

 
 
 
 
The sky of dramaga, bogor. Captured by me.

Ada yang tak hilang
ketika senja datang
= RASA

Selasa, 10 April 2018

Belajar Dari Transformasi Bluebird Group (Wawancara dengan Ibu Indrijati Rahajoe, Vice President of Bluebird Group)

Pada 23 Maret 2018 lalu, setelah melalui perjalanan yang sangaat panjang dan di sela-sela kesibukan magang di sebuah BUMN di Bekasi, Alhamdulillaah saya memperoleh kesempatan untuk bertemu dan mewawancarai seseorang yang sangaaat menginspirasi. 
Beliau adalaaah Ibu Indrijati Rahajoe (Vice President of Bluebird Group)

She is sooo amazing. Actually. Literally sooo inspiring :))
Beliau telah puluhan tahun berkecimpung di dunia Human Resource and she has been recognized and awarded internationally so many times in human resource world.
Kesempatan langka ini saya peroleh sebagai perwakilan anggota Human Resource Clinic IPB dan kita mau bikin majalah gituuh hehehe.
Alhamdulillaah dapat banyak insight baruu dan langsung jadi semangaat yeaayy :D
Ohya, wawancara ini terfokus pada transformasi yang dilakukan di Bluebird Group.
Alright langsung aja yaaaw here we go~~


Unjuk rasa para pengemudi taksi pada Selasa, 22 Maret 2016 lalu seakan menjadi babak baru kontroversi keberadaan transportasi online di Indonesia. Dalam peristiwa tersebut, Bluebird menjadi salah satu pihak yang gencar diperbincangkan dan diberitakan di media massa, dengan para pengemudi Bluebird sebagai fokusnya. Bluebird pun melalui sebuah perjalanan panjang dengan banyaknya sidang dan panggilan kepolisian untuk dapat membuktikan bahwa
“It was blue, but it wasn’t Bluebird”.
Ricuh demo pengemudi taksi pada 22 Maret 2016
It’s a wake up call
Empat puluh empat tahun Bluebird telah berkecimpung dalam bisnis transportasi Indonesia dan melenggang hampir tanpa pesaing. Dominasi Bluebird yang seakan tak terhentikan, pertumbuhan yang agresif (double digit) setiap tahun, dan keberadaannya yang hampir tanpa pesaing telah membuat perusahaan ini sejenak terlena dalam kemapanan posisi.
“We are too dominant, we are too complexion with aggressive growth (double digit every year). I do believe we will win the race dengan sesama taksi. Akan tetapi, lawan baru kita ini adalah disruptor that brings new ways of bussiness model, brings new ways of bussiness philospohy” ujar Bu Indrijati Rahajoe, selaku Vice President of Bluebird Group.
Lebih lanjut, Bu Indri menambahkan bahwa terdapat dua perbedaan mendasar pada bisnis baru kompetitor dibandingkan dengan Bluebird. (1) Target pengemudi tidak lagi dipatok berdasarkan seberapa besar jumlah profit yang dapat dihasilkan, tetapi berdasarkan berapa banyak orang yang menggunakan produk perusahaan. (2) Adanya kondisi bahwa perusahaan dapat hidup tanpa call center dan street hail karena adanya teknologi. Padahal, selama ini teknologi seringkali diabaikan dan hanya dikenal menjadi pelengkap (completeness), namun kini telah telah memainkan peran penting dalam perusahaan.

Titik Balik Bluebird
Menurut Bu Indri, adanya demonstrasi tersebut seakan menjadi peringatan bahwa ada ancaman penting bagi Bluebird di masa mendatang bila tidak berbenah. 
“There was a really big question whether we still can survive or not. 
Are we a dying brand? Are we the same story like company you are learning in management, the brand that finally gone from the world? 
Are we going to be part of them?”
Pertanyaan penting tersebut seakan menjadi kunci Bluebird dalam mengambil langkah penting dengan menggandeng Boston Consulting Group (BCG) untuk membantu dalam merumuskan dan mendefinisikan strategi bisnis perusahaan. Sebagai hasilnya, pada akhir 2016, Bluebird pun meluncurkan teknologi aplikasi Bluebird.
Apps is just a new beginning, There still needs lots of change. Yang terpenting dalam proses transformasi ini adalah bagaimana meyakinkan semua pihak bahwa kita perlu bertransformasi, bahwa Bluebird perlu berbenah. Karena bagaimana mungkin transformasi akan dimulai, bagaimana mungkin strategi bisnis akan diimplementasikan apabila karyawan saja tidak percaya perlunya bertransformasi. So now this is a big ship, we need to make sure that the speed is the same” papar Bu Indri.
Tantangannya adalah bagaimana menyiapkan driver untuk bertransformasi, karena driver yang akan berhubungan langsung dengan pelanggan. Akan tetapi, prioritas transformasi adalah pada leader (top management) karena leader yang akan menentukan arah kebijakan perusahaan.

Penghargaan sebagai Pengakuan Transformasi Bluebird
Pada tahun yang sama ketika mulai berbenah, Bluebird memenangkan beberapa penghargaan, di antaranya adalah “HR Asia Best Company to Work for in Asia 2016- Indonesia Chapter”. Bu Indri menuturkan bahwa raihan penghargaan itu bukanlah tujuan utama. Akan tetapi, penghargaan yang diperoleh tersebut menjadi penyemangat bahwa apa yang dilakukan Bluebird telah dikenal dan diakui oleh pihak eksternal. Pengakuan dan penghargaan oleh pihak eksternal menandakan bahwa pihak eksternal telah melihat perubahan dan transformasi nyata perusahaan ke arah yang lebih baik.

Culture never been define, culture is what you do
“When you are doing the bussiness, you never claim the culture. Siapa saja bisa melakukan klaim tetapi kan orang luar bisa berpendapat berbeda. We have to be careful to define the culture because culture should be felt by other people outside the company. Culture never been define. Culture is what you do” papar Bu Indri.

Bluebird Driver’s employee engagement
Sementara itu, komponen penting dalam bisnis Bluebird adalah pengemudi, mobil, dan customer dengan seluruh pihak pada Bluebird yang berusaha mendukung dalam mempertemukan tiga komponen penting tersebut. Namun, yang terpenting adalah bagaimana mempertahankan dan menciptakan suasana yang nyaman bagi pengemudi. Hal ini karena komponen mobil dapat diusahakan (baik melalui leasing ataupun partnership dengan perusahaan otomotif) dan customer dapat diciptakan (misal dengan mempelajari perilaku dan keinginan pelanggan, menempatkan mobil di tempat yang memiliki banyak pelanggan potensial, serta dengan menciptakan promo-promo).
Akan tetapi, komponen driver menjadi kunci terpenting karena tanpa driver maka tidak akan ada customer. Oleh karena itu, Bluebird berusaha menanamkan employee engagement pada setiap pengemudi dengan memberikan kebebasan dan pilihan dalam mengatur target pencapaian masing-masing. Kebebasan dalam memilih ini diberikan 
dengan memberikan keleluasaan bagi pengemudi dalam memilih untuk bekerja berapa hari setiap minggu, kapan akan membayarkan setoran, dan hal-hal teknis lainnya sehingga pengemudi dapat merasa aman dan nyaman.
Selanjutnya, rasa aman dan nyaman tersebut akan menumbuhkan kebahagiaan (happiness) dan kepuasan (satisfied) bagi para pengemudi Bluebird. Implikasinya adalah kebahagiaan dan kepuasan ini tercermin dengan memberikan service terbaik bagi customer sehingga membuat customer nyaman dan puas, serta mendorong customer untuk melakukan repeat order.
Selain itu, peningkatan employee engagement khususnya bagi para pengemudi juga dilakukan lewat media sosial. Terdapat sebuah grup facebook bagi keluarga Bluebird yang diberi nama “Dari Kita Untuk Kita”. Grup ini memungkinkan para karyawan saling berbagi kabar satu sama lain sehingga dapat saling menjenguk apabila ada yang sakit, saling memberikan bantuan, maupun saling mendukung secara moril satu sama lain.

Memberdayakan Keluarga Bluebird
Memberdayakan dan merangkul keluarga Bluebird menjadi salah satu prioritas utama perusahaan. Berbagai program diluncurkan untuk mendukung kebijakan ini, misalnya program “Beasiswa Bluebird” untuk 6000 anak pengemudi Bluebird yang berprestasi. Selain itu, terdapat program “Kartini Bluebird” yaitu program pengembangan dan pemberdayaan bagi para istri pengemudi Bluebird, misalnya dengan mengadakan workshop menjahit dan memasak, serta menyerahkan proyek pembuatan seragam Bluebird, pembuatan sprei di mess, serta cathering makanan perusahaan pada para Kartini Bluebird. Hal ini menjadi bukti bahwa Bluebird mendukung pemberdayaan dan pengembangan keluarga Bluebird karena mereka telah menjadi salah satu komponen penting dalam kemajuan perusahaan Bluebird.

Pesan untuk Generasi Muda
Terakhir, pesan Bu Indri bagi generasi muda adalah dunia saat ini bergerak dengan sangat cepat. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus belajar, terus beradaptasi, sehingga kita dapat tetap relevan. 
Keep on learning, keep on adapting, so you can be relevant.

Artikel selengkapnya akan dipublish di website Human Resource Clinic IPB.
Check this out yaaw www.hr-clinic.com/profil.php

Selasa, 03 April 2018

The Sundanese's eating behaviour (Beberapa Kebiasaan Makan Orang Sunda)

Seiring ku jadi mahasiswa di IPB dan tinggal di Bogor, ku lumayan sudah agak mengobservasi their cultures. Termasuk budaya dan kebiasaan dalam hal makan dan masakannya. Berikut ini merupakan beberapa kesimpulan yang aku peroleh.

Alright here we go~

Tugu Kujang (Ikon Kota Bogor)
Orang sunda memang terkenal cantik-cantik, putih-putih, dan seger-seger dan itu mungkin memang tidak terlepas dari budaya mereka, their eating behaviour.
Mereka menyukai makan yang alami maybe we can call it as back to nature behaviour.
Beberapa hal yg aku notice selama kuliah di IPB dan memiliki banyak temen sunda adalah:

1. Teh tawar
Beda banget sama di Solo that is known for its Ginastel tea (teh yang legi panas kenthel), sundanese sangat familiar dengan teh tawar bahkan mungkin keberadaannya bisa disejajarkan seperti air putih.
Kamu bisa memperoleh teh tawar secara cuma-cuma kalo lagi makan di warung sunda ataupun saat bertamu di rumah orang sunda.
Mungkin bagusnya teh tawar disana itu karena dia cuer jadi dia tidak terlalu membebani ginjal dan karena ga pake gula yaaa mencegah Diabetes gituu.

2. They love everything about pala.
Aku ga ngerti apa enaknya pala sihh.
Udah pedess dan nyegrak banget tapi mereka suka banget lhohh.
Entah itu asinan pala, manisan pala, bahkan sampe pala yg dibikin kayak kembang gitu lhoo.
Ku pernah nyuil dikit dan uhhh rasanyoo~
Pas aku KKN di Lebak, Banten (masyarakatnya masih sunda banget), bahkan ada anak kecil dan mamahnya bikinin manisan pala banyaak dan bilang "Teh, aku suka banget pala, ini aku bikin buat teteh.." Ohh to tweeet :))
But anyway  pala itu termasuk rempah-rempah yang diburu sama Belanda, bisa menghangatkan tubuh, dan emang baik sih untuk kesehatan.

3. They love leaves
Mereka suka daun-daunan alias lalapan. Segala macam daun disuka dimakan langsung bahkan tanpa diolah.
Di jawa ada sih lalapan tapi yaaa buat daun-daun tertentu aja misal ada selada, daun kemangi, dll..
Tapi merekaa??
Macam-macamlah. Ada selada, sawi, daun kemangi, kenikir, beluntas, pohpohan, dll
Di sunda juga sering sih makan apa-apa ada lalapannya bahkan makan nasi goreng pun dikasi lalapan wqwq
Ohyaa ku adalah tipikal orang yang ga terlalu suka lalapan selain karena rasanya biasa aja menuutku (karena ga terbiasa), tapi ku juga agak worry dengan masalah kebersihan eaaa takutnya kalo belum direbus jadi yaaa takut tertempeli banyak hal. Biasalaah nak alay kan gini yaaw wkwkwk.
Tapi orang sunda suka banget sih lalapan sayuran pantesan aja kulitnya putih bersih. Ku baru bener-bener notice pas kemaren.

Kan buka bersama temen kamar asrama, ada Dinda, she is a sundanese. Nah kan ku pesen ikan, jamur, sama sambel yaa biasa kan di jawa gitu -- ayam, tempe atau ikan dicocol sambel tuh udah nikmat mantchapp banget lah without adding the leaves.
And she came up with "oh my God sall u just eat with those food how can u?? "
Ga gitu juga sih ngomongnya, itu versi englishnya wkwk.
Dinda nanya gini, "Yaampun Salll emang enak yaaa makan ga ada lalapannya ga pake sayur, berasa kering getooh"
And me was like enak-enak aja sihh ku suka yg kayak gini Din hahaha.
Ohya sebelumnya Dinda teh nanya-nanya ke mbak-mbaknya, kok ada menu lalapan emang kalo pesen ikan, ayam ga dikasi lalapan yaa mbak? Dan mbaknya bilang nooooo.
Yaaah kok gituu, karena merasa belum lengkap terus dinda pesen lalapan dech wqwq.
Ohyaa dia juga jadi orang yang sering ku kasi lalapanku kalo makan pas dulu jaman asrama hahaaa.

Ohyaa teh Cici juga sukaa banget lalapan, sama segala macem daun dimakan.
Rima jugaa, Shofi juga masak sayur bayem tuh cuma pake daun bayem tok til wqwqwq. *They are some friends of mine.

Dan ada cerita menarik juga nih.
Beberapa waktu lalu kan ku dan teman-teman habis main ke Desa Malasari, sebuah desa wisata di pelosok Bogor yang berada di dekat Taman Nasional Gunung Halimun Salak, masih asri banget pokoknya dan kalian harus kesanaa!!
 
Pas mau pulang, sama warga desa kita disuruh bawa pisang, kacang, dan daun-daun banyaak banget.
Daun apakah itu?
Daun Pohpohan
Daun pohpohan namanya kalo dalam bahasa sunda (gatau bahasa Indonesianya apa) dan itu seplastik besar dan bener-bener penuh.
Salah satu adek tingkatku yang memang orang sunda seneng banget.
Terus ga pada mau bawa daun pohpohan itu kecuali dia.
Yeaaaay ceunaaah.
Terus ku bertanya, "emang daun sebanyak itu mau dibikin apa dek?"
Guess what he answered.
"Mau aku cuci bersih, terus aku taruh kulkas, terus nanti aku cemilin buat belajar kak"
OMG,, dicemilin cuyyy!!
Cemilan sehat pisan eta namana :))
Soo buat kamukamu yang pengen slim bisa banget dicoba yaaaw, ngemil dedaunan :)


4. They tend to eat less sugar and less coconut milk (santan)
Lets see their menus and you will find out kalo ga banyak menu yg manis-manis kayak di jawa yaaa.
Terus ga banyak yang pake santan-santan juga lhoo.

The conclusion is that adding the leaves into the food menu, eating pala, drinking sour tea, and having food that is less sugar and less coconut milk, has become some culture and the sundanese's commong eating behaviour.
The implication maybe we can see them having whiter and smoother skin than the javanese have. Not at all but mostly like that lah :)
And those are good for our health :)

Nah sebenernya masih banyak sih yang lain.
To be continued yaaaw.